Sebuah biola usang ditawarkan di sebuah pelelangan. Juru lelang mengangkat biola usang tersebut dengan nada mengejek, “Berapa saya harus menawarkan ini? 100 dolar… tidak ada? … 75 dolar? … 50 dolar? … 25 dolar? 5 dolar? Bagaimana dengan 1 dolar?
Tiba-tiba seorang laki-laki tua mendekati juru lelang dan meraih biola tersebut. Lelaki tersebut memasang senar-senarnya dan menyetel nada-nadanya. Kemudian mulai memainkannya.
Nada-nada yang indah dan nyaring memenuhi ruangan. Para hadirin duduk terpesona mendengar laki-laki tua itu merayu dengan permainan solo yang indah. Ketika permainannya selesai, laki-laki tua itu membungkuk dalam-dalam… menyerahkan biola ke juru lelang… dan berlalu diiringi tepuk tangan semua orang.
Juru lelang tersenyum mengangkat biola tua dan berteriak di tengah keramaian, “Sekarang berapa saya menawarkan alat musik yang SANGAT LUAR BIASA ini? Seribu untuk bapak yang memakai topi… Saya mendengar dua ribu dari ibu di depan… kembali ke bapak itu… tiga ribu? … apakah saya mendengar empat ribu? … empat ribu! Apakah saya mendengar lima ribu? Lima ribu! Lima ribu satu kali… lima ribu dua kali… TERJUAL!
Kisah ini memberikan gambaran mengenai konsep nilai dan cara memaksimalkannya.
Biola yang pada awalnya tidak berharga, kemudian melalui penyetelan-penyetel an dan permainan yang baik nilainya melonjak berkali lipat.
Begitu juga dengan diri kita. Nilai kita akan melonjak berlipat lipat jika kita bersedia terus belajar, memperbaiki diri, menambah keahlian, mengupdate pengetahuan dan wawasan, memperluas pergaulan dan membangun jaringan/network.
Lalu apakah nilai tambah kita? Bagi tempat kita bekerja, sehingga kita layak digaji besar? Bagi pelanggan kita, sehingga mereka terus membeli dari kita? Bagi komunitas dan almamater kita? Bagi masyarakat dan negara kita?
Orang sukses terus menciptakan nilai tambah.
Mari kita ciptakan nilai tambah diri kita bagi sesama.
Komentar
Posting Komentar